Senin, 07 November 2022

DONGENG / RUPAMA (CERITA RAKYAT MAKASSAR) - I KUKANG

 

Sumber Sampul di Pinterest, disunting oleh Rachmat Aliullah

I KUKANG

            Berkatalah yang empunya cerita, ada suatu kampung dan tidak jelas disebutkan dimana tempat dan namanya. Di dalam kampung tersebut hiduplah satu keluarga yang sangat susah dan miskin. Ada juga satu keluarga yang kaya-raya di dalam kampung tersebut. Keluarga kaya-raya tersebut belum pernah merasakan yang namanya penderitaan dan kesusahan. Hidupnya di dunia ini sudah sejahtera dan tidak ada kekurangan.

            Orang kaya tersebut setiap harinya bepergian, bersantai dan berlibur bersama keluarga dan kerabatnya apa lagi di hari-hari besar. Orang kaya tersebut memiliki satu anak laki-laki yang bernama I Makkatutu. Dan orang miskin yang ada di dalam kampung tersebut juga mempunyai anak laki-laki yang bernama I Kukang. Perkerjaan yang setiapnya dikerjakan oleh ayah I Kukang adalah mencari dan mengumpulkan kayu bakar di dalam hutan, setalah itu lalu dijual kepada si orang kaya tersebut. Persoalan dibeli tidak dibeli kayunya pun bisa dipakai untuk rumah tangganya sendiri. Biasanya orang kaya tersebut hanya membeli dengan harga yang murah, mau bagaiamana lagi karena ayah I Kukang tidak punya langganan atau pembeli lain yang mau membeli kayu bakar yang iya kumpulkan. Kira-kira begitulah kehidupan dan keseharian orang miskin tersebut. Istri dari orang miskin ini adalah tukang kebun, dan memiliki anak kecil yang tinggal di gubuk rumahnya dialah I Kukang, tidurnya tidak bertikar, tidak memakai bantal, dan tidak apa pakaian.

            Sungguh ini adalah hikmah yang besar dari sang pencipta,  anak tersebut adalah I Kukang semata dia tidak rewel dan cengeng walau pun nasibnya pedih dan kebutuhan sehari-hari tidak mencukupi, mungkin pagi ini ada yang bisa dimakan tapi tidak ada untuk makan malam. Sebab begitulah nasib Tuhan sudah mengatur segala rejeki tiap manusia, seperti juga bala bencana dan cobaan hidup lainnya. Begitu pula dengan kemiskinan, itu juga datangnya dari Allah Taalah yang maha Esa dan maha tinggi.

            Pada suatu ketika berbuahlah tanaman yang ditanam oleh si miskin, seperti jagung dan kentang, namun sialnya dimakan oleh kerbau, kerbau itu adalah milik si orang kaya, habislah sudah jagung tersebut.

            Disampaikanlah berita tersebut kepada si orang kaya untuk meminta ganti rugi, namun si orang orang kaya malah berbalik memarahi si orang miskin dan juga mengancam ingin membunuhnya. Bigitulah derita si miskin yang kayu bakarnya sudah tidak dibeli lagi dengan si kaya. Sejak mendengar omongan yang keluar dari mulut si orang kaya, si miskin hanya mampu menahan sakit dan menghela napas dan memegang dadanya. Begitu pedas kata-kata yang dikeluarkan si orang kaya kepada si miskin. Berdoalah orang miskin itu dan meminta kepada Allah Taalah “mudah-mudahan aku diberi hati yang bersih,  dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini.” Nampaklah kekuasaan dan kemauan Allah Taalah yang maha besar kepada hambaNya. Kabar duka tiba, ayah I Kukang meninggal dunia karena ketiban batu besar.

            Sejak ayah I Kukang meninggal dunia bertambah pulalah deritanya, sebab tidak ada satu orang pun yang mendatanginya, tidak ada juga orang yang mau mengantarnya ke pemakaman kuburnya sebab dia miskin. Sementara itu Ibu I Kukang terus menangis, air matanya jatuh berlinang, meminta tolong kepada orang-orang yang bekerja pada si kaya. Tidak lama kemudian datanglah orang-orang itu membawa jenazah kepemakaman. Dimakamkanlah ayah I Kukang namun tidak memakai batu nisan. Sejak kepergian ayahnya I Kukang dan ibunya tinggalah berdua. Tiap harinya ibu I Kukang bekerja sebagai penumbuk padi, dan upahnya pun demikian padi juga. Beras dan tepungnya ia masak, itulah yang ia makan, dan itu juga yang dibuat bubur untuk dimakan I Kukang.

            Betapa pedihnya derita yang dialami I Kukang dan Ibunya, tidak ada derita yang pedihnya sama yang dialami oleh keduanya. I Kukang tidak memakai baju, tidak memakai celana, tidak beralaskan tikar saat tidur, bisa dibilang telanjang. Ibunya hanya memakai sarung yang compang-camping. Gubuk yang mereka tempati tinggal pun sudah runtuh dan ambruk. Pindahlah mereka ke suatu gua di dekat batu besar, tinggallah mereka di gua yang tidak mempunyai pintu.

            Singkat cerita setelah sekian lama I Kukang dan ibunya tinggal di gua tersebut sampai I Kukang tumbuh dewasa, kira-kira berumur tujuh belas tahun, sebak iya rajin dan semangat belajar dan berguru pada orang pintar, dan sampailah ia menjadi orang masyhur besar. Atas izin Allah Taalah pulalah I Kukang kemudian menjadi orang yang kaya-raya, dan nasib orang kaya tadi gara-gara sifat takaburnya sekarang ia menjadi jatuh miskin dan hidupnya kini susah. Begitulah cerita I Kukang.

 

Penerjemah : Rachmat Aliullah

 

 nonton juga Kelas Bahasa Daerah di kanal yutup



 

note: ingin terjemahan bahasa Makassarnya?
silahkan hubungi WA (085707314184)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANTUN BAHASA MAKASSAR - PANTUN MAKASSAR BERTEMA CINTA/ASMARA/GOMBALAN

lappa laona 2020 Punna turungmi bosia siella-ella gunturua punna nassami kanaya tayang-tayangmi la battua   lepa-lepa batang unt...